Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 09 Juli 2011

Tuhan.. aku minta..

Tuhan,
Hari ini, aku hanya meminta
Sepotong senja yang kau ambil dari ronaMu
Dan sebait kelabu yang kau bingkai dari bahagiaMu

Hanya itu..




Minggu, 26 Juni 2011

Hmm..

So you think I am smart?
And you think I am good looking.

You think I have all the happiness in the world,
And it seems that I live with a perfect family.

You think I am always circled by good friends,
And that people give me everything I want.

You say to yourself that God must have loved me,
Since I look so merry all day round,
I know He does love me,
But He does it to everyone,
With His own unpredictable ways.

You think I can have anything I want,
Anyone I need,
Any time I want them.

But so you know,
There's this little secret I tell you,
Promise me you won't tell anyone?

I am one of the poorest,
I am one of the miserable-st,
I am one of the unluckiest,
I am one of the saddest,
I am one of the stupid-est.

I am, o yes I am,
For thinking of no one but you,
For praying to have no one but you,
For wanting no other soul but you,
For dreaming of none other than you.

The only one who will perfect my life.
You.




Senin, 07 Maret 2011

apalah, terserah..

Malammalam romansa itu saling berkejar, susul menyusul pada mungkin yang entah bagaimana kau menamainya. Selaksa kepingan rindu, esensi yang sama masih begitu melekat dengan aroma kecintaanmu pada hitam. Berapa lama lagi, berapa jarak dan usia tempuh sebuah perjalanan?

“aku, masih bernafas”, selalu dengan nada yang paling sederhana

Sesaat lalu kau melirihkan hangat mentari yang masih saling melambai bersama musim duka kitab abadi. Belum juga usai kau membacanya

“tentu saja, harum ingatan dan tempias gerimis itu berbeda, seperti bumi enggan menistakan cinta kasih pada Sang Malam”.



*Pasti kesedihan itu bakal ada pada diri kita, ambil hikamahnya aja itu bakal jadi sebuah pengalaman buat diri lo sendiri yang bakal ngerubah sifat diri lo untuk lebih baik, dan jangan lupa untuk selalu temuin sifat-sifat unik dari diri lo ya nggak selalu positif (tapi jujur aja sama artikel ini agak meleset "galau" itu bukan sifat kan). ya intinya gak semua yang negatif itu akan selalu negatif. Coba terus Liat diri lo dari sisi yang berbeda. Jangan takut akan kesalahan yang selalu membuat diri lo down,
Negatives not always be so negative.

Jumat, 11 Februari 2011

Gerbang Sudut Pandangku terhadap Sastra

malam ini saya coba posting puisi ibu saya, yang telah membuka sudut pandang saya terhadap sastra..
tapi setelah saya koreksi, ternyata sudah pernah saya posting dibulan maret 2009..
ini dia puisinya :


#biarkan#

biarkan kerikil itu
diam di dadaku

biarkan kerikil itu menjamur, busuk, dan berdebu
seirama dengan lapuknya sang waktu

biarkan dengan kerikil itu
aku hapus
sebuah nama yg telah
lekat. . .
pekat. . .
dihatiku. . .

"namamu"



itulah puisi yang membuat saya merubah sudut pandang saya terhadap sastra.
sekilas, tidak ada yang "wah" dari puisi ini, karena diksi yang digunakan terlalu sederhana menurut saya..
tapi, setelah di perhatikan..
bait 1-3 berisi kebencian, kekecewaan, gondok (apapun namanya) yang sangat dalam terhadap seseorang. sehingga penulis berkeinginan untuk melupakan semua tentang orang tsb.
tapi apa yang terjadi di bait ke-4?
satu kata yang membuat puisi ini mempunyai nyawa, bisa di bilang ada rasa manis, asam, asin, gurih, sehingga tidak hambar. berharap di bait ke-4 ini akan keluar sebuah nama, atau pun identitas orang yang di benci. tapi ternyata hanya tertulis "namamu". kata tsb seperti menggambarkan penulis belum mampu untuk membenci, belum mampu untuk melupakan hal-hal yang berhubungan dengan orang tsb. bahkan mungkin seperti tak tega untuk mengungkapkan siapa sebenarnya..

bagaimana menurut anda?
mungkin hanya ini yang sanggup saya uraikan. jujur, saya belum puas menguraikn puisi itu..
tapi saya kurang mampu untuk mengejawantahkan dan menuliskannya..
salam..


Rabu, 09 Februari 2011

Puisi Lamaku


#Bunga ini Untukmu#

bunga ini
sekedar wangi dalam metafora,
sedang tangkainya hidup hanya dari bait dan rima

bunga ini untukmu,
namun
warna, aroma, dan seperti apa di kala senja
seluruhnya ku serahkan padamu,
bagaimana engkau melukiskannya sendiri di batinmu

bunga ini,
tak perlu tanah, air dan udara
cukup engkau rawat dia
di dalam benakmu, bersama redup debar
dan kerlip imajimu,
dia tak kan layu

bunga ini,
untukmu...



Jumat, 26 Juni 2009

catatan yang tak tercatat

Aku adalah sebuah catatan yg tak tercatat dalam buku harian seseorang.
Pada detak jantung mengambang,
dari kediaman punggung bulan
disitu aku memuja ; tujuh warna sunyi, dan satu bidadari.

Aku tak pernah menghitung, bahkan tak ingat.
Seberapa lama aku memuja,
hingga setelahnya keluar, aku menjadi seorang perindu.
Menagih setiap kiasan dr setiap apa yang dijanjikan, karena syarat telah ku tunaikan
dlm bntuk pemujaan selama entah.

Waktu terus berlari.
Dan dunia tetap berjalan seperti biasa. Pun hingga hari akhir datang, aku hanyalah sebuah catatan yg tak tercatat di buku harian seseorang.
Jika sebegitunya, adakah yang kanan dan kiriku tak mencatat laku yang kuperbuat sewaktu nafas masih melekat?

jadikan aku seperti dulu

Archimedes & Newton takkan pernah mengerti
Enstein & Edison takkan sanggup merumuskan E=mc2
Ah, tak sebanding dg momentum cintaku pada-Mu dahulu
Pertama kali cahaya-Mu jatuh tepat di sajadah hitamku
Nyata, tegak, diperbesar dan moment cinta itu semakin kuat

Dengan cinta Kau ciptakan semesta
Kuasanya Engkau, hingga semesta bertasbih untuk penciptanya
ah, bilangan cintaku mengalahkan tetapan Avogadro


Tapi itu dulu...
Kini jarak-Mu denganku bagai matahari dg pluto saat aphelium
Karena kefuturanku,
Kini cahaya-Mu semakin memudar
Namun gerlap keabadian smakin menyapa

Ya Allah, kembalikan Aku seperti dulu
Selalu kurindu hidayah dari-Mu
Jadikan Aku seperti dulu....

maafkan aku, ibu...

dalam jejak terpeta
menitipkan senafas dalam hampar tak luas

aku padamu ibu
menata sekeping cita
menuang seteguk harap,
dalam dahaga pinta.
mungkin,ludahmu mengering
telah banyak kau telan menjelma peluh,
terbuang
seikat doa dipelipismu terlukis
nama anakmu setiang langit,
harapmu

setitik antara rimbunan huruf
kadang tak tersusun, menjelma kabut
ibu...
mungkin aku tak setegar angin
bahkan pada sebisik pilu
mampu sungkurkan aku pada tangis berkepanjang

aku padamu ibu
anakmu yang mulai meragu
kepada esok, antara ingin matiku
maafkan aku, ibu...

Kamis, 09 April 2009

Inginku Kau Mengerti

beribu getir kau tumpahkan pada pelupuk mata hingga kelu
desahan lirih cinta menasbih namamu tak ketuk pintu pengorbanan
dan ketika kaki ini lelah tertatih setelah begitu rutin
asa kuteteskan pada dinding jiwamu. kau pilu.
kau kata tak ada cinta lagi untukmu

lalu apa kau tahu
tiap butiran cinta jiwa ini terpahat namamu
dan kugulirkan dalam nyanyian rindu kecemasan

apa kau tak sadar pula
betapa dalam persembahan akan semua rasa
atas segala goresan yang ingin memakna

kenapa tak jua mengerti, dirimu yang kunanti

Bangkit Lagi

ketika asa menjelma kata menjadi nyata
menyurat rasa yang memendam bara
ingin diterima tapi malah kena cerca
maka tertampar hati sakit terasa

jatuh terkapar diri rasai
sempat hati tuk melarikan diri
namun sadar lalu coba berdiri
dan bangkit tuk kesekian kali

lihat semua satu persatu lalu pilu
merasa malu mencoreng nama guru
tapi diri akan lahir selalu
dengan semangat tuk buat karya baru

hingga suatu masa nanti
diri akan bawa nama dalam mati

Tasbih Cinta

empat purnama lalu cinta memberi tasbih namamu
untuk kugulirkan kala rindu menerpa kalbu
cinta menitipkan pula setitik air
untuk kucampur air mataku yang mengalir
dan aku tetap tenggelam dalam kesunyian
tanpa bisa sentuh bayang impian

kau tahu pengembaraanku terhenti di padang milikmu
pada hamparan hijau rumput kueja namamu
di tebing-tebing bukit kuukir kerinduanku
hingga kuhanyutkan asa lewat deras sungai menuju hulu
namun tetap saja tak tampak sosok damai itu
hingga tersungkur ku dalam lembah risau

apa kau tahu cintaku bukan angin badai
bukan gelombang besar menerjang karang
cintaku hanya bisikan lirih menasbih namamu
cintaku tetesan air selalu pada batu hatimu
cintaku desah kecil terurai kecemasan
langkah kecil tertatih gapai matahari

karena cinta telah mengetuk pintuku
menitipkan butir asa berpahat namamu

kopimu

kueja jejak kerak kopi itu
yang membekas di dasar hati
nikmat kukecap

karena lidah ini masih kelu
oleh rasa yang terlalu tinggi
hingga hambar

lalu perlahan kujilati pinggirnya
untuk kugores pada gelasku

Bekal Perjalanan

ketika kaki mungilku hendak beranjak keluar ambang pintu rumah
menuju tempat berkumpulnya wajah kanak di bangku-bangku diniyah

ibuku berpesan “Jangan lupa memasukkan bekalmu ke dalam tas.
Supaya nanti kamu tidak lapar dan dahaga.”

tatkala dalam tapak dewasaku
hedak berlalu menuju sebuah tanah baru

ayahku berpesan “Genggamlah selalu amanah dari Tuhanmu dan jangan pernah
kamu melepaskannya. Karena dia yang akan menjaga kesucian jiwa dan ragamu.”

hingga masa terus bergulir
membawa kaki-kaki bergegas melintasi pasir
menyisakan lelah di kala terang berada di batas akhir

dan genggamanku tidak lagi erat seperti dulu
merenggang perlahan dan nyaris terlepas
mengantar diri terhempas di dalam kegelapan yang meluas

lalu sebilah cahaya melintas di ujung penglihatan malam
mengajak langkah lemahku tertatih menyusul dan bertekad meraihnya

menjadikannya suluh dalam pencarian
bekalku yang terlepas dalam perjalanan

Pesan dari Sang Antagonis

Aku tak butuh kritikanmu!
Atau bahkan pujianmu!
Berbicaralah sesukamu, teriaklah, sampaikan pada dunia tentangku...
Tentang kebusukanku!
Kepalaku kan tetap menengadah...dan dadaku kan selalu membusung menghantam awan dan hujan!!!

Kuhujam langit,,Tuhan-Tuhanmu pun kucaci!
Mana suaramu?? Hah??! Bicaralah!!
Keluarkan semua ludahmu...bahkan debu di kakimu pun
Kuterima!!
Tapi kau tak akan pernah mampu membinasakanku!!
Tak akan!!

Patahkan kakiku,,remukkan lenganku!!
Tapi kau tak akan cukup berani membungkam jiwaku!
Membunuhku?? SILAHKAN!!
Darahku tak akan beku...akan terus membasahi jalan yang kau lalui
Hingga kau tak akan pernah lupa siapa aku!!

Aku akan terus ada!
Jadi mimpi terburukmu!!

Berbahagialah!! Bernyanyilah!!
Teriakkan karyamu!! Kalimat indahmu!!

Sebelum aku bangkit dan memusnahkan semuanya!!

Kau akan mati,,sebelum kau sadar bahwa aku telah membunuhmu!!!

Ada keluhan??! Hah??!!

Jangan Mengeluh

keluhmu kan jadi doa..
meski tak mau kau tetap begitu
akankah kau tambahkan lara hatimu
dengan isyarat kepengecutan

kau tak ingin begitu
tapi jiwamu bilang aku mau
meski kau bilang tak mau
ahhh

ASA MEMBAKAR RASA

rasa ini buntet serasa
hidroxyl toluen poly butadiene
teronggok jorok di meja pojok
menunggu ammonium perchlorat
jengukan garam melumur jidat
melumpur fungsi waktu, putaran
dan butir bulir-bulir kristal
mengikat lekat di kenanoan jiwa
agar yang mampet, deras mengulir
mencahaya dan membangkitkan tenaga
selaksa kerongkongan di tengah nosel
mem-bellshape-kan semburat tarikan
gaya inersia, menuju luncuran cita-cita
yang buntet mampet melayang ke antariksa raya

menjadi kenang yang hanya perlu untuk dikenang
-----


catatan :
hidroxyl toluen poly butadiene = bahan bakar roket
ammonium perchlorat = oksidator bahan bakar
nano = sepuluh pangkat minus dua belas
nosel = pengkonversi tenaga berdasarkan tekanan
bellshape = bentuk nosel yang mirip sebuah bel

mencari siapa aku?

adakah aku masih mencari?
adakah aku masih terus berlari?
untuk menggapai apa yang sebenarnya aku pun tak pernah begitu mengerti apa yang aku inginkan?
ketika kehidupan tak berarti bagi kehidupan yang lain,
ketika kehidupan hanya satu egoisme tanpa henti.
yang mengorientasikan diri kepada yang semu semata.
ketika hidup hanyalah satu perjalanan tanpa mencoba mengartikannya kepada kehdupan itu sendiri,
ketika segala sesuatu hanyalah rutinitas dan tradisi,
yang merupakan satu hal yang dipakai untuk membuat waktu seolah berlalu dan melarikan diri dari alam kehidupan.

adakah aku masih ingin kehidupan?
adakah aku masih menginginkan ujung dunia?
padahal aku haya perlu diam,
tak perlu berlari,
hanya berkontemplasi,
melihat kedalaman diri,
dan mengikuti keberadaan serta eksistensi alamiah,
mencoba menjadi fatalistik dan tak perlu romantik..

aku belum tahu, mungkin masih butuh waktu lama untuk tahu..

namun aku akan mencoba untuk mencari tahu,
dimanakah dan bagaimanakah kehidupanku layak disebut kehidupan oleh Sang Kehidupan???

Apakah Aku Adalah Aku?

Aku adalah Aku.

Apakah Aku adalah Aku?
Siapa yang menyetandarkan Aku adalah Aku?
Apakah Diriku, atau Kamu, atau Dia?
Karena Aku tidak akan menjadi Aku.
Jika tidak karena ada Kamu, dan Dia.

Lalu Kamu bertanya, "Siapakah Kamu?"
"Aku" Tapi bukan Aku adalah Aku.
Kenapa Aku bukan adalah Aku?
Karena Aku bagian dari Kamu, atau Dia.
Karena benarkah Aku ini Aku?

Aku adalah Aku ialah satuan.
Aku sebagai Aku hanya pecahan.
Mengapa kamu tahu Aku adalah Aku?
Karena ada Dia dan Kamu.
Jadi Aku bukanlah Aku?

Karena Aku bagian dari Dia dan Kamu.
Bagaimana supaya Mengenal Aku?
Kenalilah Dia dan Kamu
Apakah Dia dan Kamu berpengaruh bagi Aku?
Karena Aku bisa menjadi Dia atau Kamu.

Akunya Kamu, Akunya Dia, dan Akunya Aku.

Sebuah Pesan

: Zam

Malaikat hari ini mengantar pesan

Pesan itu berbunyi,

Ini sebuah pesan
bagi yang sedang berkurang bulan,
bagi yang tahunnya hampir kehabisan

"Bung! Jatahmu sudah berkurang."

Di bagian akhir,
dibubuhkan tandatangan

Tertanda...

"Te-U-Ha-A-eN"
"Te-U-Tu, Ha-Aa-Ha, eN-Han"
"TU-HAN"
lamat-lamat suara membacanya

Terdengar?

di hari ulang tahunnya, 150109

" Pada kala..."

Pikirku menerawang selami asrar-Mu
dan tak ingin kusembunyikan senyapku
Ahh...kuhirup dalam desiran bayu
Harap luruhkan benteng lara yang menghimpit relungku
Tlah pula sang kejora menyembul di balik cakrawala
Walau kelopak mata belum sempat bermanja di peraduannya

Pada kala
Kudendangkan kidung renjana
Entah dapat kau dengar
Walau hanya sebait resah
Tapi sesaat lagi tunggu aku di sana
Membawa sekeranjang puspa pada pusara
Walau ku tahu
Dunia kita belum bisa bercengkerama

Aku masih di sini
Tapakkan langkah menuju astanamu di nirwana
Masih kan kudendangkan kidung renjana
Karena pada kala
Kutitipkan sebuah asa