Kamis, 18 Agustus 2011

Sholat khusyu'?

akhir2 ini, seperti kehilangan gaya menulis saya :D
halah..yak..yak'o wae.. haha..

Salah seorang teman, menceritakan pengalamannya sewaktu mengerjakan sholat siang hari di rumahnya. Pada mulanya sholat berjalan adem ayem aman sentosa. Sampai akhirnya ada seekor ayam menerobos kamarnya dan bertengger di dekat makan siangnya yang rencananya mau disantap selepas sholat. Sholat yang tadinya dirasakan penuh hikmat kebijaksanaan, mulai berubah menjadi degup kekhawatiran.



Terjadi dilema ala buah simalakama. Pilihan antara mbatalin sholat buat ngusir ayam, atau sholat tetep diteruskan dengan resiko makan siangnya diembat dan dithotholi sang pithik. Akhirnya terbersit ide cemerlang melintas di benaknya. Jian, ngawur tenan.. sholat kok nyari ide. Apa itu idenya?

Saat rukuk, bacaan takbir biasa-biasa saja. Namun saat bangkit dari rukuk, bacaannya dibaca dengan kenceng dan sedikit membentak…. “Sssshhaaa…. mi’allohu liman hamidah..!!” Tak lupa kedua tangannya diangkat ke atas dengan lambaian tangan ala sabetannya Ki Dalang Oye Mantebh Sudarsono. Kontan saja si ayam kaget dan terbirit-birit lari sambil pethok-pethok. Si ayam minggat, dan teman tadi tetap bisa sholat. Tapi apakah khusyu’ ?? Embuh!! Yang jelas saya jadi ngakak dengar cerita yang diragukan kebenarannya itu… :))

Lain lagi dengan rekan yang satu lagi. Pemuja Gus Dur ini anak emasnya pak Kyai satu Pondok di Jawa Timur. Gaya sholatnya agak beda dari kebanyakan orang. Kalo lagi sholat cepetnya minta ampun. Tak hanya kilat, bahkan kilat khusus. saya suka nanya, “Kok cepet temen olehe solat..??”
Dia jawab singkat, “Halah, malaikate wis apal… ha wong podho wingi.. :D “ …Wooo.. njaluk dijantur lambene…

Memang kelihatannya banyak orang yang mulai melupakan kekhusyukan dalam sholat. Mau menjalani saja sudah syukur. Karena banyak juga yang gak mau menjalani dan meninggalkan sholat dengan alasan nyembah Allah itu banyak caranya, gak harus dengan sholat. Padahal yang ngomong itu muslim juga. Gak nyadar bahwa seorang yang menyembah Allah dengan cara yang dia karang sendiri itu sebenarnya dia sedang menyembah dirinya sendiri.

Dari sisi dzohir Imam Ghazali menyarankan agar saat sholat hendaknya dijauhkan dari pandangan yang mengganggu. Misalnya kain buat sholat, tempat sujud, baju, seyogyanya dihindarkan dari warna-warni gambar dan tulisan yang mengganggu. Ini susah. Lha sajadah mesjid saja diorek-orek dengan gambar yang macem-macem. Bahkan mesjidnya tak luput dari orek-orekan warna-warni dengan alasan seni. Belum lagi saat sholat jamaah, ada jamaah sholat yang memakai kaos bergambar dan bertulisan di punggungnya. saya pernah sholat di belakang mahasiswa yang pake kaos Dagadu, yang punggungnya ditulisi. Sialnya, isi tulisannya adalah kumpulan pisuhan Aseli Djogdja. Dari sejak “dengkulmu mlotrok” sampai “cangkemmu suwek” ada semua. Walah, sholat sinambi misuh-misuh ki… :((

Hal lain yang perlu dijaga adalah suara. Maka di saat ada orang sedang sholat, jangan mengangkat suara tinggi-tinggi. Mbikin bising, ribut-ribut atau gaduh. Herannya malah ada sebagian ibu-ibu ngrumpi di masjid di saat orang sedang sholat trus ditegur, malah njawab dengan kethus, “Eh situ kalo mau sholat ya sholat aja. Jangan dengerin kita-kita. Wong situnya yang gak khusyu kok kitanya disalahin!”

Dasar lambe sumur, asal nyobrot ya gitu itu. Simbah pernah usul, ibu-ibu model gitu dibledhosi mercon saja yang gedenya sak kempol. Jarak 5 meter lah. Begitu mbledos, lihat saja reaksi para simbok itu. Kalo protes tinggal bilang, “kalo mau ngrumpi ya ngrumpi aja. Jangan dengerin merconnya.. ntar malah kaget lho!!” Tapi usul simbah itu dianggep ekstrim plus berbau terorisme… :D Makanya gak pernah dijalani.

Kiat yang lain adalah memahami makna dari bacaan doa dan surat-surat yang dibaca. Ini membutuhkan pembelajaran. Agar diri kita tidak umak-umik, jopa-japu, hewes-hewes tapi gak paham maksudnya. Makanya yang namanya belajar itu seumur idup. Dikasih umur sewidak rolas, tapi al patekah gak mudeng maknane. Wah, muspro umure… gek wingi-wingi dho ngopo?? Kecuali memang baru mertobat dari mbegajul. Allah Maha Pemaap.

Yang jelas sholat khusyu itu perlu latihan terus. Bahkan latihan seumur hidup. Sambil terus berdoa, semoga diberi kekhusyu’an oleh Allah. Karena yang menguasai hati kita adalah Allah. Yang mbolak-mbalik hati kita juga Allah.

*sumber cerita dr temen

Minggu, 14 Agustus 2011

Pribadi Merdeka


kau bilang hidup jangan disesali
Aku bilang salah..
Hidup jangan dikecewakan

ditikam peluru di musim hujan yang membakar



:: bang ersa 1961-2003


menjelang  perayaan hari kemerdekaan, menyeruak sebuah pertanyaan..
apakah kita benar-benar sudah merdeka?
Apa dan bagaimana makna sebenarnya dari kemerdekaan?
Makna merdeka mungkin sangat luas, merdeka secara politik, ekonomi, sosial, budaya atau merdeka secara individu.
Kali ini, saya akan bicara sedikit tentang makna merdeka secara individu dari sisi psikologis. bukan berarti menggurui, hanya mengingatkan diri sendiri. syukur, kalo ada manfaatnya buat yang lain..

Makna merdeka secara individu adalah saat kita tak lagi terpengaruh oleh sikap, kata-kata dan tindakan orang lain. Menurut saya, ini adalah esensi kemerdekaan individu yang sebenarnya. Sesederhana itukah makna kemerdekaan individu? Sikap, kata-kata dan tindakan seseorang atau sekelompok orang sering mempengaruhi diri kita. Kata-kata negatif membuat kita marah, sedih, sakit hati.. Kata-kata positif seperti pujian atau sanjungan membuat kita merasa senang, bahagia, bangga, merasa berharga..

Tanpa disadari kesenangan akan kata-kata yang baik berubah menjadi kebutuhan, bahkan lebih dari itu, kita menjadi kecanduan dengan kata-kata pujian dan sanjungan. Saat tak mendapatkannya kita merasa sedih, merasa kecewa, merasa tak berharga dsb. Kita akan melakukan apa saja untuk mendapatkannya. Dengan demikian kesenangan, kebahagiaan, kekecewaan dan kesedihan kita tergantung dari sikap, kata-kata dan tindakan orang lain kepada kita. Hidup kita tergantung kepada orang lain, hidup kita dibelenggu oleh orang lain. Artinya hidup kita belum merdeka.

Jika diri kita sudah merdeka, tak ada apa pun, siapa pun atau peristiwa apa pun yang akan membuat kita marah, kecewa, sedih, sakit hati atau pikiran-pikiran negatif lainnya. Sanjungan dan pujian pun tak akan mempengaruhi kita, tak akan membuat kita tinggi hati atau lupa diri..

*gambar : ersa siregar

Rabu, 10 Agustus 2011

Percaya Diri vs Sombong


Sekedar alternatif pemikiran..
siap?? ok.. kita pandang dari sudut lain..





Kita boleh pamer dan tidak harus randah hati..
kalo kita pengusaha, dealer, agen tunggal produk..
Kita harusnya mengatakan produk kita adalah yg terbaik.
kalo kita tidak “memamerkan” produk kita, gimana bisa laku ?
Mungkinkah lukisan dan karya seni bisa terjual tanpa dipamerkan?
Apa itu berarti seniman suka pamer dan sombong ?
Apakah seorang seniman itu, manusia yg sangat tidak terpuji karena suka pamer ?

Kita boleh sombong dan tinggi hati..
kalo kita adalah seorang petinju dan petarung sajati..
Justru kesombongan itu akan menarik minat para penonton..
Bagaimana dulu, Muhammad Ali sampai dijuluki “si mulut besar”
Apa itu berarti dia orang sok jago yg sombong ?
Profesinya memang menuntutnya harus terlihat angkuh didepan lawan.
Apa jadinya, pertarungan antara dua petinju yg baik hati ?
Menarikkah pertarungan dua petinju yang saling mengalah ?
hash.. nonton adu jangkrik aja..hehe..

Museum Record adalah catatan kesombongan manusia..
Didalamnya tercatat manusia terhebat dari segala bidang..
Bukankah artinya, mereka memamerkan diri lebih dari kita ?
Mereka menyatakan diri lebih hebat dari kita yg tidak tercatat disana.
Dengan kata lain, kita semua jauh dibawah kehebatan mereka..
Terus.. tersinggungkah kita ? sombongkah mereka ?

Soekarno, sangat sombong dan lantang mencela Amerika.
Juga sering bersikap sombong merendahkan Malaysia.
Konon sikap kesombongan itulah yg sangat dikagumi ortu kita dulu..
Malah kita sering kecewa dengan sikap kerendahan hati SBY..
Banyak orang, ingin SBY jangan berlindung dibalik suasana terzolimi..


Kampanye, adalah kumpulan orang sombong ?

Karena disaat itu mereka saling meninggikan derajatnya, merasa paling hebat.
Para Caleg. Capres menyatakan dia bisa lebih baik.. lebih mampu..
Bukankah itu artinya, mereka semua telah demikian sombong ?
andai, mereka semua rendah hati.. semua tidak merasa hebat..
Apa jadi kampanye seperti itu ? terpilihkah mereka ?
Konon dalam semua Pemilu, pemenangnya adalah yg bilang: "saya mampu"
Belum pernah ada kampanye yg berkata jujur dan menyatakan dia biasa-biasa aja..

Kesimpulannya..
Sombong dan pamer tidak selalu negatif, tergantung situasi..
Yang tidak baik adalah: Terlalu.
Terlalu, dalam hal apapun sangat tidak baik.. itu yg harus dicermati.
Apalagi terlalu sombong, terlalu baik pun tidak bagus..
Biasakan bersikap wajar.. dengan toleransi sepantasnya..